Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Halo semuanya, lama tidak berjumpa!
Setelah buka blog, baru sadar terakhir kali saya posting di tahun 2019. Hehe. Ternyata sudah lama yaa. Kangen juga pengen nulis lagi.
Sebagaimana judulnya, di tulisan ini saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan dalam hal mengajar. Tulisan ini tidak dimaksudkan menggurui atau memberikan tips-tips tentang mengajar dari seorang expert. Karena saya sendiri adalah seorang guru 'otodidak' yang belajar semuanya dari nol.
Saya hanya ingin bercerita dan mengungkapkan isi pikiran. Semoga ada manfaat yang bisa dipetik dari tulisan ini. Mohon maaf jika yang saya sampaikan mungkin kurang tepat.
Bila teman-teman punya pengalaman serupa seperti saya atau memiliki informasi yang lebih baik, saya sangat senang jika kalian mau membaginya di kolom komentar!
____________________________
![]() |
| Dua murid saya sedang main tumpuk-tumpuk balok. |
Saat ini saya bekerja sebagai guru di sebuah NGO internasional yang memiliki mandat membantu pengungsi dari luar negeri. Untuk itu, murid saya adalah anak-anak spesial. Mereka datang dari berbagai negara dengan budaya dan bahasa yang berbeda. Tugas utama saya membantu mempersiapkan mereka memasuki dunia pendidikan formal - khususnya tingkat sekolah dasar di sebuah program bernama school readiness.
Dalam tulisan ini, saya ingin memfokuskan pengalaman saya saat mengajar anak-anak dalam rentan usia 5-8 tahun.
To make story short, akhir-akhir ini saya merasa kewalahan baik secara fisik maupun mental. Rasanya kadang frustasi, menghadapi anak-anak yang dalam kacamata saya sulit dikondisikan. Jangankan mulai belajar (tracing, mengenal huruf, angka, dan berbagai aktifitas lainnya), murid-murid saya bahkan masih sulit fokus dan duduk dengan tenang.
Terus terang hal ini membuat saya kesal. Saya bingung bagaimana menangani mereka. Saya merasa lesson plan yang sudah saya buat tidak bisa terimplementasi dengan baik. Saya juga cenderung sensitif saat anak-anak tertentu yang notabene sangat aktif begitu menyita perhatian dan terus membuat keributan.
Kemudian saya berpikir bahwa harus ada yang saya evaluasi. Jika diteruskan, bukan hanya murid-murid yang tidak maksimal dalam belajar, saya pun sebagai guru juga akan lelah dan terus menerus frustasi karena merasa gagal.
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk belajar tentang metode montessori. Silakan di googling bagi yang penasaran montessori itu apa. Insya Allah jika dimudahkan, saya akan membuat ulasan tentang buku montessori yang baru saya beli dalam tulisan yang lain.
Buku itu ternyata adalah tulisan Dr. Motenssori sendiri yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Terus terang, saya baru sampai bagian awal. hehe. Tapi saya pikir, lebih baik sambil dipraktikkan supaya ilmunya lebih nempel.
Ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan dan membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana seharusnya memandang anak-anak. Di antaranya ialah dua poin berikut.
- Anak-anak Menerima dan Memproses Informasi dengan Cara Mengindera
Berbeda dengan orang dewasa yang sudah memahami konsep-konsep bersifat abstrak, anak-anak tidak demikian. Mereka belum mampu berpikir dengan cara seperti itu dan membutuhkan sesuatu yang konkret untuk menyerap informasi. Itulah sebabnya, mereka cenderung penasaran dan selalu ingin menyentuh benda-benda yang mereka lihat. Saat itu, mereka sedang mengobservasi dan memproses informasi. Mereka sedang berusaha mengenali hal baru dengan cara merasakannya secara langsung. Sayangnya, hal ini sering disalahartikan oleh orang dewasa (termasuk saya) yang menganggap perilaku tersebut menyebalkan. Orang dewasa biasanya kesal jika anak-anak terlalu aktif, tidak mau diam, dan ingin menyentuh benda-benda di sekitarnya.
- Anak-anak Memiliki Tingkat Perkembangan Berbeda-beda
Bukan ide yang bagus untuk memberikan materi seragam yang diperuntukan bagi semua anak. Tingkat perkembangan dan potensi yang dimiliki anak bervariasi. Alih-alih mengharapkan seluruh siswa menyelesaikan tugas dengan cara dan waktu yang relatif sama, kita seharusnya lebih memahami dan melihat anak sebagai individu yang unik.Tentu saya pun terjebak dengan kekeliruan ini. Saya 'kepedean' karena sudah menyiapakan lesson plan tertentu yang menurut saya menarik dan sesuai kebutuhan. Faktanya, saat diterapkan tidak semua siswa saya tampak menikmati dan mampu menyelesaikan tugas dengan cara yang saya harapkan. Saya senang ketika menemukan murid yang rajin dan tekun dalam belajar. Sebaliknya, saya kesal bila ada siswa yang terkesan ogah-ogahan dan mengerjakan tugasnya secara asal.
- Memfasilitasi Anak-anak Bermain dan Membebaskan Mereka Memilih Aktifitas yang Disukai
Jika sebelumnya saya cenderung 'menyimpan' mainan dengan tujuan agar anak-anak bisa fokus belajar, kali ini saya mencoba merubah cara pandang saya. Dalam dunia mereka, bermain adalah belajar dan belajar adalah bermain. Maka, saya mengeluarkan berbagai mainan (sudah saya pilih terlebih dulu dan sesuaikan agar menunjang capaian pembelajaran) dan membebaskan mereka memainkan yang mereka suka.Sebagai konsekuensi, jika anak-anak bosan dan ingin berganti ke mainan lain, mereka harus merapikan dan mengembalikan mainan sebelumnya. Tujuannya adalah agar mereka belajar tanggung jawab dan memahami peraturan. Hal ini juga sebagai upaya untuk menanamkan kebiasaan baik berupa kerapihan bagi mereka.
- Student-centered Learning Alih-alih Teacher-centered Learning
Masih berhubungan dengan poin yang pertama, saya mencoba merubah cara saya mengajar agar lebih fokus pada siswa ketimbang saya sebagai guru. Dalam hal ini, saya memberi otoritas lebih kepada siswa untuk menentukan aktifitas atau permainan apa yang ingin mereka lakukan. Bukan sebaliknya, selalu memberi instruksi agar mereka mengerjakan hal-hal sesuai lesson plan yang saya buat.Dengan cara ini, saya ingin mereka lebih menikmati kegiatan yang mereka kerjakan. Serta, saya ingin motivasi belajar mereka tumbuh dari dalam diri mereka sendiri. Saya percaya, bila anak-anak merasakan bahwa belajar itu menyenangkan, maka dengan sendirinya mereka akan melakukannya tanpa paksaan.
Sekian dulu sesi curhat kali ini.
Terima kasih sudah mampir. Insya Allah sampai jumpa lagi di tulisan berikutnya!
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.





















