Goodbye, Things: Mengenal Cara Hidup Minimalis ala Orang Jepang (Review Buku karya Fumio Sasaki)
By rika nikmatussolehah - 07.35
![]() |
| Credit: instagram.fcgk10-1.fna.fbcdn.ne |
"Tidak perlu membeli karena murah, tidak perlu mengambil karena gratis." (hlm. 104)
"Jika jawabannya bukan sangat butuh, katakan tidak." (hlm. 105)
Perkenalan dengan Gagasan Minimalisme
Dengan gaya tuturnya yang mengalir, Fumio Sasaki dalam buku ini menjelaskan, minimalisme adalah gaya hidup yang berarti kita mengurangi jumlah barang yang kita miliki sampai pada tingkat paling minimum. Sementara itu, Sasaki juga menegaskan bahwa setiap orang punya standarnya masing-masing tentang hidup minimalis. Orang yang masih memiliki puluhan atau bahkan ratusan buku dan barang koleksi lain, tidak berarti ia bukan minimalis.
Menurutnya, seorang dikatakan minimalis jika tahu persis apa saja hal-hal yang bersifat pokok bagi dirinya. Serta mengurangi jumlah kepemilikan barang dengan tujuan memberi ruang bagi hal-hal yang pokok tersebut. Sehingga konsep minimalis itu sendiri sebenarnya relatif dan tidak ada aturan pastinya.
Mengartikan Kembali Makna Barang dalam Hidup Manusia
Pada awalnya pakaian, tempat tinggal, perabotan rumah tangga dan berbagai barang elektronik yang kita miliki hadir guna memudahkan hidup manusia. Baju, kita pakai untuk menutup bagian tubuh pribadi yang memang harus kita lindungi. Rumah, menjadi tempat berteduh sekaligus berlindung. Perabotan rumah tangga, berfungsi memudahkan aktifitas kita sehari-hari, serta teknologi sendiri hadir untuk membuat hidup manusia lebih efisien.
Sayangnya, semakin lama peran barang-barang tersebut berubah. Manusia yang awalnya 'memperalat' barang, kini balik 'diperalat' oleh barang itu sendiri.
Bagaimana mungkin benda mati dapat 'memperalat' seseorang?
Sasaki bercerita dari pengalaman pribadinya. Saat masih seorang maksinalis, ia harus menyisihkan waktu khusus untuk membereskan dan merawat barang-barang dimiliknya. Hal ini semakin lama membuatnya lelah, malas bergerak hingga apartemen yang ia tempati tampak semakin berantakan.
Belum lagi soal space yang terpakai. Barang-barang pasti memakan tempat untuk penyimpanan. Sehingga jika dianalogikan, ini tampak seperti kita sedang menyewa apartemen bersama seorang teman, namun kita sendiri yang menanggung biaya sewanya.
Sebaliknya, persoalan akan lain jika barang-barang yang dimiliki seseorang adalah yang benar-benar penting dan ia butuhkan. Alih-alih menghabiskan energi untuk mengurus dan menjaga benda mati, seseorang akan bisa fokus pada hal lain yang lebih esensial. Tanpa terfokus pada benda, seseorang akan punya banyak waktu untuk lebih produktif, melakukan dan menekuni hobinya, atau sekedar menghabiskan waktu santai dengan nyaman.
Terapi untuk Si Shopaholic
Belanja mungkin adalah hobi sebagian orang. Belanja bisa menjadi pelarian ketika stres dan banyak pikiran. Tapi nyatanya, rasa bahagia tidak lantas muncul setelah seseorang membeli barang. Karena keinginan manusia cenderung sulit dipuaskan.
Oleh sebab itu, buku ini adalah asupan yang patut dicoba untuk pembaca yang ingin menghentikan kebiasaan belanja. Pembahasannya ringan dan mudah diaplikasikan. Diawali dari penuturan Sasaki tentang pengalaman pribadinya ketika ia masih seorang maksimalis. Hingga secara bertahap ia berhasil mengurangi sebagian besar barang-barangnya dan menjadi seorang minimalis.
Dari segi isi, buku ini tidak melulu membahas kiat-kiat membuang barang. Diperkaya dengan kutipan dan berbagai hasil penelitian, buku ini menunjukkan pada pembaca bahwa kebahagiaan seseorang tidak bergantung pada berapa banyak barang yang ia punya. Identitas dan nilai diri seseorang juga tidak ditentukan dari merk sepatu atau jaket yang ia pakai. Serta, bahwa barang bukanlah sumber dari kebahagiaan.
Akhir kata, buku ini sangat layak dibaca untuk mereka yang ingin memulai hidup sebagai minimalis. Atau bagi mereka yang sekedar ingin hidup secara lebih efisien. Untuk memudahkan pembaca, di bagian akhir buku ini Sasaki merangkum 55 kiat berpisah dari barang, serta 15 kiat tambahan untuk tahap selanjutnya dalam perjalanan menunju minimalis.
_________________________________________________________________________________
Judul Buku : Goodbye, Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang
Penulis : Fumio Sasaki
Penerjemah : Annisa Cinantya Putri
Penerbitan : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2018
Tebal Buku : xxv + 242 halaman
Harga Buku : Rp 78.000


















